Showing posts with label ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ceritaku. Show all posts

Tuesday, 13 November 2012

Gonta-ganti Sekolah


Kecil-kecil begini, aku sudah 3 kali pindah sekolah lho (hebat kaaaan? hihihi...). Awalnya aku sekolah di PAUD-nya TK Anshofi Samarinda. Itu pun cuma enam bulan, karena siap-siap ikut bunda tugas belajar ke Malang. 

ayo tebak, yang manakah aku? ^_^


Lalu ketika aku genap empat tahun, aku sekolah di TK Al Wa’yi Malang. Bunda memasukkan aku kesana karena lokasi sekolah tersebut paling dekat dengan rumah kontrakan yang kami tinggali, dan satu-satunya sekolah yang masih menerima murid baru (hihihi, yang lain udah pada nolak, karena bunda telat sebulan daftarin aku sekolah. maklum, pindah ke Malang pertengahan bulan Agustus). Di sekolah ini aku setahun aja, di TK A.

Sunday, 11 November 2012

Tareko dan Alun-alun Kota Malang


Senangnya tinggal di Malang itu, karena masih banyak tempat-tempat alami dan asri yang bisa dijadikan spot refreshing keluarga. Seperti alun-alun kota Malang dan Tareko (Taman Rekreasi Kota) yang letaknya sekompleks dengan balai kota. Murah meriah, dan menyenangkan. Di Samarinda, mana ada taman kayak gini. Mall doang isinya, bikin konsumtif. Untung bundaku bukan shopaholic.
Kalau di Tareko, masuk kesana cuma dipungut biaya parkir seribu rupiah. Selain menikmati udara segar, aku paling suka lihat koleksi satwa yang dipelihara disana. Ada ular, aneka burung, rusa, monyet, landak, dll. Favoritku, melihat rusa dan burung merak. Kenapa rusa? Karena aku suka sekali nonton film Bambi yang tokoh utamanya seekor rusa kecil yang lucu. Sedangkan burung merak, aku suka melihat sayap dan ekornya ketika dibentangkan, indah banget. Sesekali aku juga berenang di kolam renang yang ada disana. Kolamnya kecil dan rame, bunda nggak terlalu suka renang disana. Tiket masuknya Rp 3000.

Saturday, 14 April 2012

Bermain Bola Basket








Di Islamic Center Samarinda ada sebuah TK, aku lupa namanya. Satu hari di Minggu pagi, ayah bunda mengajakku bermain di taman TK tersebut. Ada ring basket. Kebetulan aku bawa bola dari rumah. Lumayan, bisa nge-golkan bola berkali-kali. Begini aksiku ketika bermain bola basket, hehe

Friday, 2 December 2011

Berburu Raspberry

Sudah satu semester ini Bunda kuliah lagi, ambil program magister di Universitas Negeri Malang. Kadang, kalau nggak ada jadwal kuliah, bunda suka mengajakku main ke kampusnya. Kampus bunda saaaangat luas. Aku bebas berlari-larian disana.

Selain luas, kampus bunda juga adem dan asri. Pepohonan tumbuh disana-sini. Aneka bunga warna-warni juga turut menghiasi taman-taman kecil yang ada. Hmmm, benar-benar bikin betah.

Diantara tanaman-tanaman itu, ada satu yang menarik perhatianku, yaitu tanaman raspberry. Tanaman ini kutemukan tumbuh di setiap sudut fakultas sastra. Bergerombol. Tinggi-tinggi.

Sementara bunda ke perpustakaan sebentar, aku berburu raspberry sama mbak Intan, teman bermainku di rumah.

Bentuk buah raspberry mirip anggur, tapi ukurannya saaangat mini. Seperti ini…..

Kata bunda, buah raspberry yang warnanya ungu kehitaman rasanya manis. Tapi aku suka memetik yang warnanya merah. Bukan untuk dimakan, tapi buat mainan (iiih, jahil banget ya? Hihihi…). Habis, kalau dimakan rasanya asem sih… ^_^

Friday, 20 August 2010

Raya Go to School

kalau berangkat sekolah, ayah bunda gantian nganterin Raya. jemput pulangnya juga gantian. tiap hari ke sekolah naik motor. sekolahnya dari jam 8.30--10.30. setelah ngantar, ayah bunda langsung kerja, nggak pake nungguin. jadi sehari-hari habis ngantar, Raya langsung ditinggal di sekolah (yang sekaligus jadi TPA Raya).

Raya lagi siap-siap mau berangkat ^_^






Monday, 27 April 2009

Sikat Gigi Yuk...!

Gigiku mulai tumbuh saat usiaku menginjak 1 tahun (telat banget gak sih..?). sejak itu, bunda mulai membiasakanku membersihkan gigi dan mulut, tapi pake kasa steril yang dibasahi dengan air matang, karena belum bisa pakai sikat gigi bayi. Mungkin karena gak minum susu formula (cuma ASI), bunda baru mengenalkanku dengan aktivitas gosok gigi ini waktu gigiku mulai nongol satu-satu. Penyebab gigi rusak salah satunya kan karena minum susu formula pakai dot sambil bobok. Aku gak pernah kayak gitu.

Meski gak setiap hari bunda membersihkan gigi dan mulutku (bunda pelupa sih, payah!), Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada tanda-tanda gigi geripis pada gigiku. Sekarang gigiku sudah 12 biji, saatnya ninggalin kasa steril, harus secepatnya kenalan sama sikat gigi sebenarnya. Supaya sikat gigi jadi aktivitas yang menyenangkan, sikat gigi yang dipakai harus nyaman, gak bikin sakit. Untuk urusan ini, bunda memilih sikat gigi jari untukku. Bentuknya lucu, bahannya dari silikon, bulu sikatnya lembuuut banget, jadi aman, gak bikin takut. Cara pakainya, sikatnya dimasukkan ke jari, trus kalo sudah masuk mulut, gerak-gerakin deh ke atas-bawah-kanan-kiri-depan-belakang. Sambil nyanyi bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, bunda asyik membersihkan gigiku. Dan aku dengan sukarela membuka mulutku lebar-lebar.

Sementara ini bunda menyikat gigiku tanpa pasta gigi, soalnya belum bisa kumur-kumur, ntar ketelan lagi. Cuma pakai air matang untuk membersihkan sikatnya sebelum digunakan. Meskipun sudah ada pasta gigi bayi dengan berbagai rasa buah, bunda belum mengijinkan aku pakai odol. Kata bunda, ntar kalo aku udah bisa gosok gigi sendiri, baru deh dibolehin pakai odol plus pakai sikat gigi yang bergagang.

So, sikat gigi bareng-bareng yuk…!

 

Saturday, 18 April 2009

Tiga Kawan Baru

Aku punya tiga boneka baru. Tiga-tiganya dikasih, nggak beli sendiri. Satu dari seorang om yang ngekos di samping rumah (hadiah dari sebuah bank), dua lainnya dari mbah ling, nenekku di Jawa. Yang dari om samping rumah kunamai Mini, karena bentuknya kecil banget, tingginya cuma 8 senti. Aku pikir, diantara bonekaku yang lain, dia paling kecil. Eh, sekalinya pas pulang ke Lumajang bulan lalu, mbah Ling ngasih aku boneka yang lebih kecil lagi ukurannya dari si Mini. Nyari-nyari nama yang cocok, akhirnya ketemu. Boneka 5 senti yang berwarna pink tua itu (sebenarnya itu gantungan kunci lo, he) kuberi nama Imut. Pas kan?

 

Nah, boneka dari Mbah Ling yang satunya lagi adalah jenis boneka yang saat ini lagi tren, yaitu boneka kaki panjang. Bedanya, punyaku berjilbab. Langka lo. Coba deh lihat yang dijual di pasaran, rata-rata pada pake rok mini sama tanktop, gak sopan kata mbah, hehe. Boneka kaki panjang ini kuberi nama Tasya.

 

Aku paling seneng main sama si Tasya, karena dia bisa digendong kesana kemari, bisa gendong depan atau belakang (soalnya di kedua tangan Tasya ada perekatnya), bisa dipake guling kalo bobok, hehe. Tingginya hampir sama dengan tinggi badan Raya. Kayak teman sebaya aja jadinya ;).

Saturday, 14 February 2009

selamat jalan om akbar..

Pukul dua belas wita semalam, ayah dapat sms dari tante Siti yang memberitahu kalau Om Akbar—teman sekantor ayah—saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Haji Darjad. Ayah yang saat itu belum tidur, terkejut. Betapa tidak, sore sebelum pulang kantor ayah sempat main tenis meja sama Om Akbar, tiba-tiba malamnya dinyatakan kritis? Ternyata, sepulang dari kantor Om Akbar pergi main futsal sama teman-teman kantor ayah yang lain. Setiap Jumat malam, mereka selalu main futsal di Sempaja. Ayahku dulu juga ikut. Tapi setelah mengalami cedera lutut dan nggak bisa jalan normal selama beberapa hari, bunda melarang Ayah. Takutnya nanti cedera lagi.
Ragu-ragu ayah mau berangkat menjenguk Om Akbar. Sudah malam banget. Ayah juga belum tidur. Selain itu, semalam aku demam. Setelah dipikir berkali-kali, ayah milih besok pagi aja habis subuh njenguk. Ayah pun lelap.
Setengah jam kemudian, bunda bangun. Bunda buka-buka hape ayah, ada dua sms dan satu panggilan tak terjawab. Setelah dibuka, innalillahi wa inna ilaihi rajiun…, Om Akbar meninggal dunia…
Om Akbar yang segar bugar waktu terakhir sama ayah, beberapa jam setelah itu sudah nggak ada…
Kuasa Allah. Kalau sudah tergariskan seperti itu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Mungkin memang takdir Om Akbar di dunia cukup dua puluh lima tahun saja, dan belum sempat menikah.
Untunglah di Samarinda Om Akbar punya saudara. Begitu dinyatakan meninggal, beliau langsung dibawa ke rumah saudaranya di jalan S. Parman. Jam satu dini hari, Ayah berangkat kesana bersama tante Siti, tante Tanti, dan Om Rudi. Di rumah itu sudah berkumpul teman-teman sekantor ayah yang lain. Juga Om-om yang waktu itu main futsal sama Om Akbar, dan masih memakai baju olahraga lengkap.
 Menurut cerita, Om Akbar itu orang yang sulit tidur di malam hari, bahkan seminggu terkahir ini dia mengaku insomnia terus-terusan. Paginya ngantor, Senin—Jumat. Nah, kemarin ditambah lagi dengan main tennis meja dan futsal, bayangkan capeknya, meskipun waktu futsal dia cuma penjaga gawang. Ada dugaan, Om Akbar meninggal karena kerja jantung terganggu. Soalnya semalam waktu futsal baru dapat satu putaran, Om Akbar istirahat dan minum air es. Setelah itu muntah-muntah dan pingsan. Ditambah lagi dia perokok. Kejadian ini mirip dengan yang dialami Alm. Basuki—yang pelawak terkenal itu lo—beberapa tahun lalu.
Setelah disolatkan, rencananya jam sembilan pagi ini Om Akbar diterbangkan ke kampung halamannya di Batang, Jawa Tengah.
Raya nggak begitu mengenal Om Akbar sih. Cuma kalau ketemu pas Raya main ke kantor Ayah, Om Akbar suka say hello sambil becandain Raya. Iya, kata ayah, Om Akbar itu orangnya lucu, hobi ngejokes meski kadang agak konyol dan ‘nyerempet bahaya’. Trus, sempat juga weekend sama Om Akbar ke Tenggarong.
Selamat jalan Om Akbar…, semoga amal ibadah selama hidup om diterima di sisiNya. Amin..

Tuesday, 4 November 2008

Waktu usiaku di perut bunda tujuh bulan ….

Kalau ada yang tanya, pengalaman apa yang paling menarik, mengesankan, dan nggak bisa dilupain sama bundaku selama menetap di Flores? Jawabannya ada dua, pertama peristiwa kelahiranku, kedua, waktu manjat ke gunung Kelimutu untuk melihat indahnya danau tiga warna di puncaknya. Bayangin aja, bunda mengunjungi danau yang tersohor sebagai salah satu keajaiban dunia itu waktu hamil tua, waktu hamil aku tujuh bulan! Sebuah pengalaman yang penuh resiko, penuh bahaya. Disaat orang lain melarang keras bunda untuk pergi kesana karena takut terjadi apa-apa (misalnya tiba-tiba aku pengen keluar, gimana hayo?), bunda tetap keukeuh ikut. Entah kenapa, bunda merasa itulah kesempatan emas yang gak boleh disia-siakan. Mumpung  ada yang ngajak pergi rame-rame.

 

 

Karena kalo sendiri aja, maksudnya berdua aja sama ayah, nggak mungkin. Selain gak tau jalan, juga gak seru. Jalan menuju danau itu kan berliku-liku, kanan kiri jurang, jadi kalo mual muntah banyak temannya, beban penderitaan terasa gak berat-berat amat.

Singkat cerita, bunda nekat ke kelimutu. Bekalnya yakin 100% insyaAllah gak akan terjadi apa-apa. anjing menggonggong, bunda tetap berlalu.hehe. bunda benar-benar tutup telinga atas nada-nada khawatir yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Nurutin kata takut, gak bakal sampai ke kelimutu, begitu prinsip bunda.

Sepanjang perjalanan, bunda tampak semangat 45. meski sempat pusing sebentar, bunda gak nyerah. Dasarnya bunda memang suka traveling ke tempat-tempat baru, jadi pantang mundur meski ayah merayu-rayu biar bunda ngebatalin niatnya. Tanjakan demi tanjakaan, tangga demi tangga, terasa seperti jalan lurus bagi bunda. Hingga nggak terasa bunda berhasil sampai puncak! Melihat langsung keindahan danau yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat itu, membuat bunda lupa kalau sedang hamil. Hehe.

Alhamdulillah sampai rumah nggak terjadi apapun yang ditakutkan. Besoknya, ketika yang lain kecapekan, kaki kram, pegel-pegel dan sebangsanya, bunda malah fine-fine aja. Sampai-sampai, orang lain yang lihat kondisi bunda pada heran plus nggak percaya. Yah, mungkin efek sugesti juga ya. Karena bunda selalu bilang padaku, aku harus kuat, gak boleh lemah, makanya selama dalam kandungan aku berusaha gak nyusahin bunda.

Kenyataannya, memang itulah kesempatan emas yang menghampiri bunda dan ayah. Karena waktu usiaku tiga bulan, ayah pindah kerja ke Samarinda. Untung waktu itu ayah bunda ikut ke kelimutu..   kalau gak, cerita ketika menetap di Ende kurang lengkap dong. Orang bilang, belum dikatakan pernah ke Flores kalau belum menginjakkan kaki di danau kelimutu…

 

ket foto:

             1. kelimutu yang eksotik...

             2. ibu hamil menapak tangga menuju puncak gunung, hehe

Monday, 3 November 2008

Insiden Akikah-an

Tujuh hari setelah aku lahir, ayah bunda segera mengakikahkan aku, karena pelaksanaan akikah sangat dianjurkan dan lebih baik dilakukan di hari ketujuh setelah kelahiran. Pada hari itu, ayah bunda juga mencukur habis rambut tebal indahku (hiks!), dan mengumumkan nama resmiku (plus mendaftarkan nama itu untuk akte kelahiran). Selain di-akikah, dicukur, dan pengumuman nama, hari itu telingaku juga ditindik trus dikasih sepasang anting imut sebagai tanda kalau aku cewek. Jangan bayangin gimana sakitnya waktu jarum panas melubangi kedua telingaku, sakiiit luar biasa. Ayah bunda aja sampai gak tega melihatku menangis kencang sambil berdarah-darah ketika ditindik oleh bude Tri, bidan yang membantu proses kelahiranku. Begitu proses ‘penganiayaan’ itu selesai, kata ayah bunda, aku kelihatan tambah cantik deh.. hehe ya iyalah, cewek..

Acara akikahanku berjalan cukup lancar. Semua tetek bengek yang berhubungan dengan kambing (mulai dari sembelih, pengolahannya hingga jadi santapan lezat, dan pengemasan) diserahkan ke seorang pemilik warung sate tersohor di Ende, yaitu Wak Kohar. Jasa beliau cukup membantu, mengingat bunda waktu itu kondisinya masih lemah, gak ada saudara dan handai taulan, bahkan kedua nenek kakekku juga gak bisa datang ke Flores (hiks! Katanya karena jauh banget n gak punya ongkos..). begitu beres, tugas ayah bagi-bagiin ke tetangga, teman-teman kantor ayah, dan para kenalan sesama wong jowo yang merantau di Ende. Sebelum dibagiin, tak lupa ayah menempelkan secarik kertas yang bertuliskan ucapan syukur dan nama resmiku. begitu mau dibagi rata, ada seorang teman yang ngasih penjelasan tentang nama terakhirku (arrahim), yang sebenarnya tidak boleh dipakai.

Sebetulnya ayah bunda jauh-jauh hari sudah tahu tentang hal itu, tapi gak yakin, karena begitu banyak orang ‘ngerti’ yang pakai nama sejenis. Misalnya Al Amin Nasution (nyomot nama selebritis DPR nih..). Al Amin kan nama julukan Rasulullah SAW, dan itu hanya boleh dipakai beliau. Tapi kenapa dipakai sama orangtuanya pak Amin ya? Dll masih banyak contohnya. Begitu pemikiran ayah bunda dulu. Tapi akhirnya ayah bunda yakin (setelah menelaah buku fikih bayi yang dibeli bunda sebelum aku lahir berulang kali), bahwa menggunakan nama-nama suci seperti asmaul husna dan panggilan Rasulullah itu nggak boleh.

Kalau lembaran kertas yang sudah ditempel rapi itu disobek satu-satu sudah nggak mungkin. Maka dengan segala kerelaan hati, ayah bunda pun bersusah payah mencoret kata ‘Arrahim’ di tiap-tiap kotak, satu persatu, lalu menggantinya dengan kata ‘Yasmin’ yang dicomot dengan spontan. Kalau nggak salah waktu itu jumlahnya 60-an kotak. Insiden yang mengharukan…

 

Kambing inilah yang rela mengorbankan hidupnya untuk membebaskan ketergadaianku.. (hiks, tengs mbek.. mungkin sudah nasibmu harus berakhir seperti ini. Maaf ya..)

 

 

Sunday, 2 November 2008

Cerita di Balik Nama

Asmaraya Naura Yasmin. Inilah nama pemberian kedua orangtuaku. Nama yang cantik bukan? Kata Bunda, ada cerita unik di balik pemberian namaku. Konon, dulu nama terakhirku bukan Yasmin, tapi Arrahim. Niatnya sih, mengabadikan nama belakang kedua kakekku yang sama-sama bernama Abdul Rochim. Eh, setelah baca buku fikih bayi, ternyata adab pemberian nama gak ngebolehin (haram) memakai asmaul husna. Karena arti Arrahim kan, maha pengasih. Sebutan itu hanya milik Allah, manusia nggak boleh memakainya. Celakanya, ayah-bunda baru tahu hal itu ketika sudah mendaftarkan namaku untuk akte kelahiran. Bingung deh jadinya. Secepat kilat bunda asal nyomot kata Yasmin setelah baca daftar nama bayi. Eh, cocok juga.

 

Konon lagi, bunda sudah mempersiapkan nama panggilanku jauh sebelum bunda hamil aku loh. Bunda pengeeen banget ngasih aku nama Raya setelah lihat akting Dian Sastro yang te-o-pe be-ge-te di serial Dunia Tanpa Koma yang tayang di RCTI sekitar tahun 2006. di serial itu, Dian Sastro berperan sebagai Raya, seorang wartawan media terkemuka yang professional menjalankan pekerjaannya. Kebetulan, itulah satu-satunya serial tv yang diikuti bunda dari awal sampai akhir (karena sebenarnya bunda gak suka nonton sinetron Indonesia yang rata-rata jiplakan film luar negeri, udah gitu ceritanya suka mengada-ngada alias gak kreatif, hehe). Nah, kebetulan aku terlahir sebagai anak perempuan. Jadilah cita-cita bunda menamaiku Raya kesampaian.

 

Tentang kata Naura, lain lagi ceritanya. Pas nunggu detik-detik kelahiranku, bunda sedang baca novel Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy. Tanpa sengaja bunda nemu nama salah satu tokohnya yang menurut bunda cantik banget, yaitu Noura (yang kelak di layar lebarnya diperankan Zaskia Adya Mecca). Setelah timbang sana sini, bunda sama ayah memutuskan memakai nama itu, tapi huruf O-nya diganti A, jadinya Naura. Biar pengucapannya enak didengar (kata orang, biar harmonisasi irama pengucapannya pas, hehe).

 

Sekarang tinggal menggabungkan jadi nama panjang deh. Karena gak boleh pake asmaul husna, biar gak terlalu kecewa banget, ayah-bunda pasang kata Asma (dari kata Asmaul) di depan kata Raya. Kalo digabung jadi Asmaraya. Match kan? Bunda sama Ayah pengen nama anaknya kelak adalah nama yang unik, artinya bagus, dan belum pernah dipakai untuk nama orang lain. Nama Asmaraya adalah nama yang memenuhi kriteria itu. Coba deh, diteliti. Belum pernah ada kan yang pakai nama itu sebelum Raya? (hehe.. maksa dikit gak papa dong..). yang ada Asmirandah (nama artis) sama Asmarani (nama penulis buku favorit bundaJ). Kata Naura diletakkan setelah Asmaraya, setelah itu ditutup dengan kata Yasmin. Akhirnya, terciptalah nama Asmaraya Naura Yasmin, gitu ceritanya…