Tuesday, 13 November 2012
Gonta-ganti Sekolah
Sunday, 11 November 2012
Tareko dan Alun-alun Kota Malang
Saturday, 14 April 2012
Bermain Bola Basket
Di Islamic Center Samarinda ada sebuah TK, aku lupa namanya. Satu hari di Minggu pagi, ayah bunda mengajakku bermain di taman TK tersebut. Ada ring basket. Kebetulan aku bawa bola dari rumah. Lumayan, bisa nge-golkan bola berkali-kali. Begini aksiku ketika bermain bola basket, hehe
Friday, 2 December 2011
Berburu Raspberry
Selain luas, kampus bunda juga adem dan asri. Pepohonan tumbuh disana-sini. Aneka bunga warna-warni juga turut menghiasi taman-taman kecil yang ada. Hmmm, benar-benar bikin betah.
Diantara tanaman-tanaman itu, ada satu yang menarik perhatianku, yaitu tanaman raspberry. Tanaman ini kutemukan tumbuh di setiap sudut fakultas sastra. Bergerombol. Tinggi-tinggi.
Sementara bunda ke perpustakaan sebentar, aku berburu raspberry sama mbak Intan, teman bermainku di rumah.
Bentuk buah raspberry mirip anggur, tapi ukurannya saaangat mini. Seperti ini…..
Kata bunda, buah raspberry yang warnanya ungu kehitaman rasanya manis. Tapi aku suka memetik yang warnanya merah. Bukan untuk dimakan, tapi buat mainan (iiih, jahil banget ya? Hihihi…). Habis, kalau dimakan rasanya asem sih… ^_^
Friday, 20 August 2010
Raya Go to School
Raya lagi siap-siap mau berangkat ^_^
Monday, 27 April 2009
Sikat Gigi Yuk...!
Gigiku mulai tumbuh saat usiaku menginjak 1 tahun (telat banget gak sih..?). sejak itu, bunda mulai membiasakanku membersihkan gigi dan mulut, tapi pake kasa steril yang dibasahi dengan air matang, karena belum bisa pakai sikat gigi bayi. Mungkin karena gak minum susu formula (cuma ASI), bunda baru mengenalkanku dengan aktivitas gosok gigi ini waktu gigiku mulai nongol satu-satu. Penyebab gigi rusak salah satunya
Meski gak setiap hari bunda membersihkan gigi dan mulutku (bunda pelupa sih, payah!), Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada tanda-tanda gigi geripis pada gigiku. Sekarang gigiku sudah 12 biji, saatnya ninggalin kasa steril, harus secepatnya kenalan sama sikat gigi sebenarnya. Supaya sikat gigi jadi aktivitas yang menyenangkan, sikat gigi yang dipakai harus nyaman, gak bikin sakit. Untuk urusan ini, bunda memilih sikat gigi jari untukku. Bentuknya lucu, bahannya dari silikon, bulu sikatnya lembuuut banget, jadi aman, gak bikin takut. Cara pakainya, sikatnya dimasukkan ke jari, trus kalo sudah masuk mulut, gerak-gerakin deh ke atas-bawah-kanan-kiri-depan-belakang. Sambil nyanyi bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, bunda asyik membersihkan gigiku. Dan aku dengan sukarela membuka mulutku lebar-lebar.
Sementara ini bunda menyikat gigiku tanpa pasta gigi, soalnya belum bisa kumur-kumur, ntar ketelan lagi. Cuma pakai air matang untuk membersihkan sikatnya sebelum digunakan. Meskipun sudah ada pasta gigi bayi dengan berbagai rasa buah, bunda belum mengijinkan aku pakai odol. Kata bunda, ntar kalo aku udah bisa gosok gigi sendiri, baru deh dibolehin pakai odol plus pakai sikat gigi yang bergagang.
So, sikat gigi bareng-bareng yuk…!
Saturday, 18 April 2009
Tiga Kawan Baru
Aku punya tiga boneka baru. Tiga-tiganya dikasih, nggak beli sendiri. Satu dari seorang om yang ngekos di samping rumah (hadiah dari sebuah bank), dua lainnya dari mbah ling, nenekku di Jawa. Yang dari om samping rumah kunamai Mini, karena bentuknya kecil banget, tingginya cuma 8 senti. Aku pikir, diantara bonekaku yang lain, dia paling kecil. Eh, sekalinya pas pulang ke Lumajang bulan lalu, mbah Ling ngasih aku boneka yang lebih kecil lagi ukurannya dari si Mini. Nyari-nyari nama yang cocok, akhirnya ketemu. Boneka 5 senti yang berwarna pink tua itu (sebenarnya itu gantungan kunci lo, he) kuberi nama Imut. Pas
Nah, boneka dari Mbah Ling yang satunya lagi adalah jenis boneka yang saat ini lagi tren, yaitu boneka kaki panjang. Bedanya, punyaku berjilbab. Langka lo. Coba deh lihat yang dijual di pasaran, rata-rata pada pake rok mini sama tanktop, gak sopan kata mbah, hehe. Boneka kaki panjang ini kuberi nama Tasya.
Aku paling seneng main sama si Tasya, karena dia bisa digendong kesana kemari, bisa gendong depan atau belakang (soalnya di kedua tangan Tasya ada perekatnya), bisa dipake guling kalo bobok, hehe. Tingginya hampir sama dengan tinggi badan Raya. Kayak teman sebaya aja jadinya ;).
Saturday, 14 February 2009
selamat jalan om akbar..
Tuesday, 4 November 2008
Waktu usiaku di perut bunda tujuh bulan ….
Karena kalo sendiri aja, maksudnya berdua aja sama ayah, nggak mungkin. Selain gak tau jalan, juga gak seru. Jalan menuju danau itu
Singkat cerita, bunda nekat ke kelimutu. Bekalnya yakin 100% insyaAllah gak akan terjadi apa-apa. anjing menggonggong, bunda tetap berlalu.hehe. bunda benar-benar tutup telinga atas nada-nada khawatir yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Nurutin kata takut, gak bakal sampai ke kelimutu, begitu prinsip bunda.
Sepanjang perjalanan, bunda tampak semangat 45. meski sempat pusing sebentar, bunda gak nyerah. Dasarnya bunda memang suka traveling ke tempat-tempat baru, jadi pantang mundur meski ayah merayu-rayu biar bunda ngebatalin niatnya. Tanjakan demi tanjakaan, tangga demi tangga, terasa seperti jalan lurus bagi bunda. Hingga nggak terasa bunda berhasil sampai puncak! Melihat langsung keindahan danau yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat itu, membuat bunda lupa kalau sedang hamil. Hehe.
Alhamdulillah sampai rumah nggak terjadi apapun yang ditakutkan. Besoknya, ketika yang lain kecapekan, kaki kram, pegel-pegel dan sebangsanya, bunda malah fine-fine aja. Sampai-sampai, orang lain yang lihat kondisi bunda pada heran plus nggak percaya. Yah, mungkin efek sugesti juga ya. Karena bunda selalu bilang padaku, aku harus kuat, gak boleh lemah, makanya selama dalam kandungan aku berusaha gak nyusahin bunda.
Kenyataannya, memang itulah kesempatan emas yang menghampiri bunda dan ayah. Karena waktu usiaku tiga bulan, ayah pindah kerja ke Samarinda. Untung waktu itu ayah bunda ikut ke kelimutu.. kalau gak, cerita ketika menetap di Ende kurang lengkap dong. Orang bilang, belum dikatakan pernah ke
ket foto:
1. kelimutu yang eksotik...
2. ibu hamil menapak tangga menuju puncak gunung, hehe
Monday, 3 November 2008
Insiden Akikah-an
Tujuh hari setelah aku lahir, ayah bunda segera mengakikahkan aku, karena pelaksanaan akikah sangat dianjurkan dan lebih baik dilakukan di hari ketujuh setelah kelahiran. Pada hari itu, ayah bunda juga mencukur habis rambut tebal indahku (hiks!), dan mengumumkan nama resmiku (plus mendaftarkan nama itu untuk akte kelahiran). Selain di-akikah, dicukur, dan pengumuman nama, hari itu telingaku juga ditindik trus dikasih sepasang anting imut sebagai tanda kalau aku cewek. Jangan bayangin gimana sakitnya waktu jarum panas melubangi kedua telingaku, sakiiit luar biasa. Ayah bunda aja sampai gak tega melihatku menangis kencang sambil berdarah-darah ketika ditindik oleh bude Tri, bidan yang membantu proses kelahiranku. Begitu proses ‘penganiayaan’ itu selesai, kata ayah bunda, aku kelihatan tambah cantik deh.. hehe ya iyalah, cewek..
Acara akikahanku berjalan cukup lancar. Semua tetek bengek yang berhubungan dengan kambing (mulai dari sembelih, pengolahannya hingga jadi santapan lezat, dan pengemasan) diserahkan ke seorang pemilik warung sate tersohor di Ende, yaitu Wak Kohar. Jasa beliau cukup membantu, mengingat bunda waktu itu kondisinya masih lemah, gak ada saudara dan handai taulan, bahkan kedua nenek kakekku juga gak bisa datang ke
Sebetulnya ayah bunda jauh-jauh hari sudah tahu tentang hal itu, tapi gak yakin, karena begitu banyak orang ‘ngerti’ yang pakai nama sejenis. Misalnya Al Amin Nasution (nyomot nama selebritis DPR nih..). Al Amin
Kalau lembaran kertas yang sudah ditempel rapi itu disobek satu-satu sudah nggak mungkin. Maka dengan segala kerelaan hati, ayah bunda pun bersusah payah mencoret kata ‘Arrahim’ di tiap-tiap kotak, satu persatu, lalu menggantinya dengan kata ‘Yasmin’ yang dicomot dengan spontan. Kalau nggak salah waktu itu jumlahnya 60-an kotak. Insiden yang mengharukan…
Kambing inilah yang rela mengorbankan hidupnya untuk membebaskan ketergadaianku.. (hiks, tengs mbek.. mungkin sudah nasibmu harus berakhir seperti ini. Maaf ya..)
Sunday, 2 November 2008
Cerita di Balik Nama
Asmaraya Naura Yasmin. Inilah nama pemberian kedua orangtuaku. Nama yang cantik bukan? Kata Bunda, ada cerita unik di balik pemberian namaku. Konon, dulu nama terakhirku bukan Yasmin, tapi Arrahim. Niatnya sih, mengabadikan nama belakang kedua kakekku yang sama-sama bernama Abdul Rochim. Eh, setelah baca buku fikih bayi, ternyata adab pemberian nama gak ngebolehin (haram) memakai asmaul husna. Karena arti Arrahim
Konon lagi, bunda sudah mempersiapkan nama panggilanku jauh sebelum bunda hamil aku loh. Bunda pengeeen banget ngasih aku nama Raya setelah lihat akting Dian Sastro yang te-o-pe be-ge-te di serial Dunia Tanpa Koma yang tayang di RCTI sekitar tahun 2006. di serial itu, Dian Sastro berperan sebagai Raya, seorang wartawan media terkemuka yang professional menjalankan pekerjaannya. Kebetulan, itulah satu-satunya serial tv yang diikuti bunda dari awal sampai akhir (karena sebenarnya bunda gak suka nonton sinetron
Tentang kata Naura, lain lagi ceritanya. Pas nunggu detik-detik kelahiranku, bunda sedang baca novel Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy. Tanpa sengaja bunda nemu nama salah satu tokohnya yang menurut bunda cantik banget, yaitu Noura (yang kelak di layar lebarnya diperankan Zaskia Adya Mecca). Setelah timbang
Sekarang tinggal menggabungkan jadi nama panjang deh. Karena gak boleh pake asmaul husna, biar gak terlalu kecewa banget, ayah-bunda pasang kata Asma (dari kata Asmaul) di depan kata Raya. Kalo digabung jadi Asmaraya. Match






