Sunday, 5 April 2009

raya in action













asyiknya corat coret

Aku lagi seneng coret-coret nih. Pokoknya kalau ada spidol, pensil, atau pulpen nganggur, langsung deh, tangan ini gatal pengen coret-coret. Dinding dan lantai rumah jadi sasaran empuk coretanku. Ayah bunda sering merasa kesal dengan ulahku ini. Bunda berpikir keras, mencari cara, gimana biar hobi baruku ini tersalurkan dengan baik tanpa mengotori rumah.

 

Semalam ayah bunda ngajak aku belanja buku ke gramedia. Eh, bunda nemu whiteboard mini yang lucu, ukurannya sekitar 40 x 30 cm, warnanya pink, kedua sisinya sama-sama bisa dicoretin, ada magnetnya buat tempel-tempel sesuatu, plus penghapus dan spidolnya. THINK! ini dia solusinya, pikir bunda.

 

Tanpa ba-bi-bu, bunda langsung beliin aku whiteboard itu. Eh, tapi sebelumnya pake nego dulu sih sama mbak-mbak petugas jaga yang kebetulan merhatiin bunda dari tadi. Hehe, heran ya, beli sesuatu di toko buku sekaliber gramed bisa tawar menawar?

 

Begini ceritanya…

 

Kondisi whiteboard itu sebenarnya udah agak lecet disana-sini, plastik pembungkusnya sudah dalam keadaan terbuka, plus yang model itu tinggal satu-satunya. Bunda pengen banget beliin whiteboard yang ini karena gambarnya cewek banget. Yang lain gambar binatang ‘n gak keren. Bunda gak suka. Dengan jurus rayuan gombalnya, bunda berhasil membuat harga whiteboard itu turun 5%. Harga awalnya 61.500 jadi 58.500 deh… lumayan. Toh, kondisinya masih cukup bagus kok.

 

Sampai di rumah, aku langsung beraksi dengan whiteboard baruku… sreeek sreekk srreeeeek… gak jelas lagi gambar apa, yang penting tangan terus bergerak, hehe..

Kata bunda, kegiatan coret-coret yang aku lakukan sangat bermanfaat lo. Pertama, untuk melatih otot-otot tangan biar nanti kalau belajar nulis atau menggambar nggak kaku. Kedua, coret-coret bisa melatih daya imajinasi, karena batita seperti aku sudah mulai belajar menuangkan bayangan benda yang ada di pikirannya.

 

Kata bunda lagi, nanti kalau aku sudah terampil pegang alat tulis, bunda akan ngajarin aku nulis dan menggambar….

 

Untuk sementara, inilah hasil kreativitasku.. hehe…

Tuesday, 31 March 2009

genit 'n girly abis!




Bunda lagi getol nih, dandanin aku dengan pernak-pernik khas cewek. Kemarin aja aku dibeliin sandal jepit sama payung kecil, dua-duanya pink! Plus sebuah tas lucu berbentuk Doraemon. Sebelumnya, aku dibeliin kacamata sama jepit rambut. Weleh, aku jadi ikut kegenitan deh. Setiap kali main, pengennya tampil gaya terus. Lihat deh, foto-fotoku ini… hehe…




Friday, 27 March 2009

Cicak-cicak di Dinding

Akhir-akhir ini, sedikit demi sedikit aku sudah bisa menirukan lagu-lagu yang sering dinyanyikan bunda untukku. Hampir setiap saat Bunda mengajari aku bernyanyi. Misalnya, waktu mandiin aku, bunda nyanyi lagu Bangun Tidur; mau nyuapin makan, bunda nyanyi lagu Sebelum Kita Makan; aku mau bobok, bunda nyanyi Nina Bobo atau Ambilkan Bulan; aku mau berangkat sekolah, bunda nyanyi lagu Satu Dua Tiga Empat; waktu hujan turun, bunda nyanyi Tik Tik Tik; menemani aku bermain, Bunda nyanyi lagu Satu-satu, Cicak-Cicak di Dinding, Pelangi-Pelangi, Bintang Kecil, Naik-naik, Burung Kakaktua, dll. Diantara lagu-lagu itu, hanya satu yang berhasil kunyanyikan dengan baik, yaitu lagu Cicak-cicak di Dinding. Ya, hanya lagu ini yang bisa kuhafal. Sambil beraktivitas apa pun, diam-diam aku sering menyenandungkan lagu ini. Kalau lagu lainnya, cuma bisa melafalkan suku kata terakhirnya saja, hehe…

Lagu Cicak-cicak di Dinding jadi lagu pertama yang berhasil kuhafal di usia 20 bulan ;)

Saturday, 14 February 2009

selamat jalan om akbar..

Pukul dua belas wita semalam, ayah dapat sms dari tante Siti yang memberitahu kalau Om Akbar—teman sekantor ayah—saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Haji Darjad. Ayah yang saat itu belum tidur, terkejut. Betapa tidak, sore sebelum pulang kantor ayah sempat main tenis meja sama Om Akbar, tiba-tiba malamnya dinyatakan kritis? Ternyata, sepulang dari kantor Om Akbar pergi main futsal sama teman-teman kantor ayah yang lain. Setiap Jumat malam, mereka selalu main futsal di Sempaja. Ayahku dulu juga ikut. Tapi setelah mengalami cedera lutut dan nggak bisa jalan normal selama beberapa hari, bunda melarang Ayah. Takutnya nanti cedera lagi.
Ragu-ragu ayah mau berangkat menjenguk Om Akbar. Sudah malam banget. Ayah juga belum tidur. Selain itu, semalam aku demam. Setelah dipikir berkali-kali, ayah milih besok pagi aja habis subuh njenguk. Ayah pun lelap.
Setengah jam kemudian, bunda bangun. Bunda buka-buka hape ayah, ada dua sms dan satu panggilan tak terjawab. Setelah dibuka, innalillahi wa inna ilaihi rajiun…, Om Akbar meninggal dunia…
Om Akbar yang segar bugar waktu terakhir sama ayah, beberapa jam setelah itu sudah nggak ada…
Kuasa Allah. Kalau sudah tergariskan seperti itu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Mungkin memang takdir Om Akbar di dunia cukup dua puluh lima tahun saja, dan belum sempat menikah.
Untunglah di Samarinda Om Akbar punya saudara. Begitu dinyatakan meninggal, beliau langsung dibawa ke rumah saudaranya di jalan S. Parman. Jam satu dini hari, Ayah berangkat kesana bersama tante Siti, tante Tanti, dan Om Rudi. Di rumah itu sudah berkumpul teman-teman sekantor ayah yang lain. Juga Om-om yang waktu itu main futsal sama Om Akbar, dan masih memakai baju olahraga lengkap.
 Menurut cerita, Om Akbar itu orang yang sulit tidur di malam hari, bahkan seminggu terkahir ini dia mengaku insomnia terus-terusan. Paginya ngantor, Senin—Jumat. Nah, kemarin ditambah lagi dengan main tennis meja dan futsal, bayangkan capeknya, meskipun waktu futsal dia cuma penjaga gawang. Ada dugaan, Om Akbar meninggal karena kerja jantung terganggu. Soalnya semalam waktu futsal baru dapat satu putaran, Om Akbar istirahat dan minum air es. Setelah itu muntah-muntah dan pingsan. Ditambah lagi dia perokok. Kejadian ini mirip dengan yang dialami Alm. Basuki—yang pelawak terkenal itu lo—beberapa tahun lalu.
Setelah disolatkan, rencananya jam sembilan pagi ini Om Akbar diterbangkan ke kampung halamannya di Batang, Jawa Tengah.
Raya nggak begitu mengenal Om Akbar sih. Cuma kalau ketemu pas Raya main ke kantor Ayah, Om Akbar suka say hello sambil becandain Raya. Iya, kata ayah, Om Akbar itu orangnya lucu, hobi ngejokes meski kadang agak konyol dan ‘nyerempet bahaya’. Trus, sempat juga weekend sama Om Akbar ke Tenggarong.
Selamat jalan Om Akbar…, semoga amal ibadah selama hidup om diterima di sisiNya. Amin..

Sunday, 8 February 2009

Minggu Pagi di Stadion Sempaja




Beberapa minggu terakhir ini, aku punya kebiasaan baru di hari Minggu pagi. Yup, jalan-jalan pagi sama ayah bunda ke Stadion Madya Sempaja. Stadion ini adalah salah satu stadion yang digunakan pada PON tahun lalu. Kalau nggak salah sih, stadion terbesar kedua setelah stadion utama yang ada di Samarinda Seberang. Disini ada asrama dan hotel atlitnya, ada arena yang disewakan untuk umum (kayak buat futsal), ada musola, tempat parkir yang luas, beberapa lapangan terbuka, dll. lima menit saja dari rumahku.