Beberapa waktu lalu aku sempat dibuat bête sama perahu
mainan yang baru dibelikan bunda di wisata belanja Tugu. Masa beli mahal-mahal
nggak bisa jalan? Perahu itu bentuknya seperti mainan kapal api. Aku nggak tahu
namanya, tapi aku dan bunda menyebutnya perahu krotok-krotok, karena kalau jalan bunyinya ‘krotok-krotok’, hehe…
Perahu itu bisa jalan kalau sumbunya disulut api dan nggak
kena air. Pertama, kedua, ketiga nggak berhasil menjalankan perahu, Bunda masih
sabar. Padahal bunda sudah menuruti petunjuk penjual perahu lho.
Berkali-kali bunda mengganti sumbu kapas dan menetesinya
dengan minyak goreng yang berfungsi sebagai bahan bakar perahu, tapi tetap
gagal. Mainan itu pun akhirnya kugeletakkan begitu saja di atas kardus
mainanku.
Tadi waktu mau ambil mainan, ketemu lagi sama si perahu. Kuambil
benda itu. “Bun, ini masih bisa jalan nggak?” tanyaku sama bunda.
“Kan dulu sudah pernah dicoba dik, memang nggak bisa jalan,
udah rusak,” jawab bunda.
“Eh, coba bawa sini, bunda lihat lagi,” ralat bunda cepat,
lalu mengambil perahu di tanganku. Setelah mengamatinya dengan seksama, wajah
bunda tiba-tiba berubah cerah. Bunda memotong lilin seujung jari, trus ditaruh
di bawah cerobong perahu. Lilin itu disulut pake korek batangan. Nyala. Bunda pun
langsung meletakkannya di ember cuci baju berisi air.
Semenit, dua menit, perahu itu masih diam. Tiba-tiba permukaan
air bergelombang, tanda air dalam pipa menyerupai knalpot yang terletak di
bawah perahu mendidih. Dan…krotok krotok
krotok, horeeee, perahuku bisa jalaaaan..!! ^^
Memang sih, perahunya jadi agak gosong karena terbakar sumbu
lilin yang panjang. Tapi nggak masalah, yang penting perahunya bisa jalan.hehe…
No comments:
Post a Comment